Portal Jembatan Mahulu Dikeluhkan Sopir Pengangkut Logistik dan Sembako
SAMARINDA — Pemasangan portal di Jembatan Mahakam Ulu (Mahulu) memicu keresahan para sopir truk. Sekitar 40 kendaraan berat tertahan di jalur Harapan Baru, Kamis (29/1/2026), setelah akses ditutup sebelum waktu yang sebelumnya diinformasikan kepada mereka.
Sejak pagi, deretan truk mengular tanpa kepastian. Sebagian sopir bertahan di balik kemudi, sementara lainnya turun dan saling berbagi cerita. Wajah lelah dan nada suara kecewa terasa kental di sekitar jembatan.
Paijo (65), sopir truk pengangkut logistik, mengaku terjebak karena perubahan waktu penutupan yang mendadak.
Ia sebelumnya mendapat informasi portal akan dipasang pukul 12.00 Wita. Dengan hitungan itu, ia berangkat dari Terminal Peti Kemas menuju Jalan Jakarta. Namun ketika tiba di Mahulu sekitar pukul 10.30 Wita, portal sudah menghadang.
“Kalau memang jam 12, kenapa jam 10 sudah ditutup? Kalau mau ditutup, tutup semua. Jangan ada beda mobil kecil dan besar,” gerutu Paijo.
Para sopir sebenarnya tidak menolak kebijakan keselamatan. Mereka memahami penutupan jembatan dilakukan menyusul insiden tabrakan tongkang. Namun yang ia sayangkan adalah perubahan jadwal tanpa kejelasan, yang langsung berdampak pada penghasilan para sopir.
“Kami ini cari makan, Mas. Buat anak istri. Kalau dari jam 10 pagi nunggu sampai malam, kami mau bagaimana?” keluhnya lirih.
Dengan sistem upah per rit, waktu menjadi faktor paling menentukan. Dalam kondisi normal, Paijo bisa melakukan satu hingga dua kali pengantaran per hari, dengan upah sekitar Rp500 ribu per rit.
“Kalau bisa dua rit, dapat sejuta. Sekarang tidak jalan sama sekali. Solar sudah keluar, makan belum,” katanya.
“Kalau mobil tidak jalan, ya tidak makan,” keluhnya lagi.
Keluhan serupa disampaikan Ponidi (58), sopir truk pengangkut sembako. Menurutnya, pemasangan portal lebih cepat membuat seluruh perhitungan kerja berantakan, terutama untuk distribusi kebutuhan pokok.
“Informasinya jam 12 ditutup. Makanya kami berani muat. Dari peti kemas ke gudang itu sudah dihitung waktunya. Sampai sini jam 10.30, harusnya masih aman, tapi ternyata sudah ditutup,” jelas Adi.
Opsi melintas pada malam hari, kata Adi, bukan solusi sederhana. Pengiriman sembako sangat bergantung pada jam bongkar muat dan ketersediaan buruh di gudang.
“Jam 10 malam buruh sudah pulang. Kita cuma driver. Kalau begini, hancur nasib driver. Mau bongkar ke mana?” katanya.
Ia juga khawatir jika kebijakan portal yang disebut sementara ini berujung permanen, seperti pengalaman di jembatan lain.
“Kalau kontainer dan sembako susah masuk, harga bisa naik. Nanti siapa yang disalahkan? Bukan kami kan,” ujarnya.
Sebagai tulang punggung keluarga dengan empat anak yang masih sekolah, satu hari tanpa jalan berarti tanpa pemasukan. “Kami ini dibayar kalau jalan. Tidak jalan, tidak ada uang,” tuturnya.
Para sopir berharap pemerintah lebih konsisten dan transparan dalam menyampaikan kebijakan di lapangan. Bagi mereka, kejelasan waktu bukan soal kenyamanan, melainkan soal bertahan hidup.
“Kami tidak melawan aturan. Kami cuma minta kejelasan. Jangan kami yang jadi korban,” timpal Paijo.Portal Jembatan Mahulu Dikeluhkan Sopir Pengangkut Logistik dan Sembako