Kemenhut Rilis “Mandara”: Senjata Digital Baru Buat Selamatkan Mangrove Kaltim!
SAMARINDA – Urusan tanam-menanam bakau sekarang nggak bisa lagi asal-asalan. Kementerian Kehutanan baru saja menyosialisasikan platform Mandara di Samarinda (29/1). Ini adalah platform data terintegrasi yang bakal jadi “kitab suci” buat kebijakan, riset, sampai aksi lapangan rehabilitasi mangrove.
Agung Rusdiatmoko, Penelaah Teknis Kebijakan Kemenhut RI, bilang kalau data mangrove itu sebenarnya banyak banget tapi kepencar-pencar. “Mandara hadir buat nyatuin semua data itu—dari kementerian, kampus, sampai sumber internasional—dalam satu wadah,” jelasnya.
Kenapa Mandara Itu Penting?
Mandara bukan cuma sekadar aplikasi, tapi bagian dari program besar M4CR (Mangroves for Coastal Resilience). Fokusnya ada di 5 poin:
- Restorasi: Balikin mangrove yang rusak.
- Inovasi: Pake data akurat buat nentuin lokasi tanam.
- Konservasi: Jagain yang sudah ada.
- Kolaborasi: Ngajak semua orang ikutan.
- Keberlanjutan: Biar nggak cuma tanam terus ditinggal mati.
Cek Progres di Kaltim (Angkanya Fantastis!)
Provincial Project Implementing Unit (PPIU) Kaltim lewat Manajernya, Asman Azis, nge-spill target yang ambisius banget buat tahun 2026.
| Tahun | Realisasi/Rencana Rehabilitasi | Status |
| 2024 | 4.445 Hektare | Selesai |
| 2025 | 1.505 Hektare | Tahap Penanaman |
| Target April 2026 | 8.728 Hektare | Target Kumulatif |
Berau Jadi Sorotan
Khusus buat Kabupaten Berau, ada lahan seluas 262 hektare yang siap digarap. Serunya, proses ini nggak maksa, tapi lewat jalur Padiatapa (kesepakatan tanpa paksaan dari masyarakat). Jadi, warga lokal bener-bener setuju dan dilibatkan sebelum bibit mangrove ditanam.
Kolaborasi adalah Koentji
Sampai April 2026 nanti, target kumulatif 8.728 hektare itu dikejar lewat kerja sama bareng Kelompok Kerja Mangrove Daerah (KKMD), akademisi, sampai masyarakat pesisir. Tujuannya satu: ekosistem pesisir Kaltim pulih dan kuat dari ancaman abrasi.
Dengan adanya Mandara, rehabilitasi mangrove di Kaltim sekarang lebih terukur dan berbasis fakta lapangan. Gak ada lagi cerita salah lokasi tanam atau data yang tumpang tindih! (ant/one)