Tomat Jadi “Mesin Cuan”, Bupati Kutim Ajak Petani Hortikultura Naik Kelas!
SANGATA, nusaetamnews.com : Siapa sangka berkebun tomat bisa jadi jalan pintas menuju kemandirian ekonomi? Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) kini makin serius membina para petani hortikultura agar nggak cuma jago tanam, tapi juga jago bisnis.
Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman, menegaskan bahwa sektor hortikultura—seperti tomat—punya potensi gila-gilaan untuk mendongkrak kesejahteraan warga desa.
Bukan Sekadar Tanam, Tapi Pakai Strategi
Ardiansyah ingin petani di Kutim mulai move on ke cara-cara modern. Pemerintah berkomitmen hadir lewat pendampingan end-to-end, mulai dari cara tanam yang efektif sampai strategi pemasaran yang tepat sasaran.
“Pertanian hortikultura itu sangat potensial. Kami ingin petani didampingi terus, supaya hasil panennya maksimal dan pemasarannya nggak meleset,” ujar Ardiansyah di Sangatta, Rabu (21/1/2026).
Pemanfaatan teknologi, inovasi budidaya, dan penguatan kelompok tani (Poktan) menjadi kunci utama. Tujuannya satu: menjadikan sektor pertanian sebagai poros utama penggerak ekonomi desa di Kutim.
Bedah Angka: Modal Rp25 Juta, Bisa Cuan Ratusan Juta?
Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) Kutim, Dyah, memberikan gambaran nyata soal betapa gurihnya bisnis hortikultura ini. Mari kita bedah hitung-hitungannya lewat komoditas tomat:
- Omzet per Hektare: Bisa tembus Rp140 juta dalam satu periode panen.
- Biaya Produksi: Estimasi hanya sekitar Rp25 juta.
- Pendapatan Bersih: Jika dikelola kelompok, rata-rata petani bisa mengantongi Rp5 juta bersih sekali panen.
Komitmen DTPHP Kutim
Dyah memastikan timnya selalu standby untuk melakukan pembinaan bagi kelompok tani yang ingin serius di bidang hortikultura. Upaya ini dilakukan demi menggenjot produksi pangan lokal agar Kutim makin mandiri dan nggak bergantung pasokan dari luar daerah.
“Dinas selalu siap mendampingi. Ini bentuk nyata kita buat meningkatkan produksi pertanian lokal di Kutai Timur,” pungkas Dyah. (ant/one)