Subscribe

Tetap Hijau di Tengah Industri! Kaltim Sukses Jaga 62% Hutan Tropis & Sabet Dana Karbon $110 Juta

2 minutes read

SAMARINDA, nusakaltimnews.com :  Di saat industri ekstraktif makin masif, Kalimantan Timur (Kaltim) membuktikan kalau ekonomi dan ekologi bisa jalan bareng. Buktinya, provinsi ini sukses mempertahankan 62% tutupan hutan hujan tropis dari total luas wilayahnya yang mencapai 12,69 juta hektare.

Angka ini jauh di atas standar minimal nasional yang cuma mematok 30%. Keren banget, kan?

“Kami konsisten menjaga tutupan hutan jauh di atas standar nasional,” ujar Susilo Pranoto, Kabid Perencanaan dan Pemanfaatan Hutan Dinas Kehutanan Kaltim, Minggu (18/1/2026).

Mahakam Ulu Jadi Juara Konservasi

Berdasarkan data terbaru, sebaran hutan berkualitas di Benua Etam tersebar di beberapa titik kunci:

  • Mahakam Ulu: Jadi “paru-paru” utama dengan tutupan hutan mencapai 80%.
  • Kutai Barat & Kutai Kartanegara: Meski industrinya padat, dua wilayah ini tetap mampu menjaga hutan di angka 50% berkat pengawasan yang super ketat.

Cuan dari Menjaga Hutan: Insentif Bank Dunia

Komitmen menjaga pohon tetap tegak ini bukan cuma soal udara segar, tapi juga mendatangkan apresiasi internasional. Kaltim baru saja mendapatkan dana insentif penurunan emisi gas rumah kaca dari Bank Dunia sebesar  110 juta Dolar AS!

Dana ini sudah mulai dicairkan dan digunakan untuk mendanai berbagai program lingkungan yang melibatkan masyarakat langsung di level akar rumput.

Kenapa Hutan Alami Tak Tergantikan?

Meski ada program reklamasi lahan bekas tambang, akademisi Universitas Mulawarman, Ibrahim, mengingatkan kalau hutan alami jauh lebih berharga. Menurutnya, mengembalikan fungsi hutan hujan tropis yang sudah dikupas tambang itu hampir mustahil dilakukan secara sempurna. “Tanaman hasil revegetasi di lahan bekas tambang sering kali cuma kasih efek hijau secara visual, tapi fungsi ekologisnya nggak utuh,” jelasnya.

Fakta unik (tapi miris) di lahan reklamasi:

  • Banyak pohon yang tumbuhnya nggak optimal atau mati karena akar membentur lapisan tanah keras.
  • Hutan alami punya “lantai hutan” (serasah organik) yang vital untuk serapan air, sedangkan lahan reklamasi sulit membentuknya.

Jika hulu Sungai Mahakam nggak dijaga, risiko banjir besar bakal terus mengintai kawasan hilir seperti Samarinda. Jadi, mempertahankan hutan yang sudah ada adalah pilihan terbaik buat masa depan kita! (ant/one)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *