Setelah 4 Hari Pencarian, Korban Tragedi Ketinting di Sungai Belayan Ditemukan Sejauh 27 KM
KEMBANG JANGGUT – Operasi pencarian korban kecelakaan perahu ketinting di Sungai Belayan, Kutai Kartanegara, akhirnya membuahkan hasil. Tim SAR gabungan berhasil menemukan Arani (58), korban yang sempat hilang setelah perahunya tertabrak kapal LCT pada Selasa lalu.
Sayangnya, korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia pada Jumat (16/1) pagi, mengakhiri pencarian intensif selama empat hari di tengah medan sungai yang ekstrem.
Penemuan di Radius 27 Kilometer
Tim SAR menemukan jenazah Arani cukup jauh dari titik awal kejadian (LKP). Jaraknya mencapai 27 kilometer ke arah hilir sungai.
“Tim berhasil mengevakuasi korban terakhir atas nama Arani di hari keempat pencarian ini. Jaraknya sekitar 27 kilometer dari lokasi awal kecelakaan,” jelas Komandan SAR Balikpapan, Nur Ngalim.
Jenazah korban langsung dievakuasi dan diserahkan kepada pihak keluarga di rumah duka, Desa Long Beleh Modang, untuk proses pemakaman.
Medan Berat: Arus Deras hingga Ancaman Buaya
Perjuangan tim gabungan—yang terdiri dari Basarnas, TNI, Polri, BPBD, hingga relawan perusahaan—bukannya tanpa hambatan. Selain harus menyisir sungai yang luas, tim menghadapi tantangan alam yang berisiko tinggi.
Beberapa kendala utama di lapangan meliputi:
- Arus Sungai: Aliran air yang sangat kuat mempersulit pergerakan perahu karet.
- Satwa Liar: Adanya ancaman binatang buas, seperti buaya, di sepanjang aliran Sungai Belayan yang menuntut kewaspadaan ekstra dari para personel.
Kilas Balik Kejadian
Kecelakaan ini melibatkan sebuah perahu ketinting berpenumpang dua orang yang dihantam oleh kapal LCT. Dalam insiden tersebut, satu penumpang bernama Ilan (21) berhasil menyelamatkan diri, sementara Arani terlempar ke sungai dan dinyatakan hilang hingga ditemukan hari ini.
Operasi ini resmi ditutup setelah seluruh korban ditemukan. Terima kasih kepada seluruh unsur yang terlibat, mulai dari aparat kecamatan hingga tim Emergency Response (ERT) PT Bayan Resources yang bahu-membahu di lapangan. (ant/one)