Subscribe

Gus Ipang: Publik Tak Suka Pejabat Sombong

3 minutes read

SAMARINDA – Di tengah derasnya arus informasi dan tajamnya sorotan publik di era digital, pola komunikasi pemerintah tak lagi bisa berjalan dengan cara lama. Praktisi komunikasi Irfan Wahid atau Gus Ipang menegaskan, empati dan kerendahan hati kini menjadi kunci utama membangun kepercayaan masyarakat.

“Publik tidak suka pejabat yang sombong. Ingat, serangan netizen bisa lebih ‘mematikan’ dari bom atom,” ujar Gus Ipang saat menjadi narasumber Workshop Komunikasi Pemprov Kaltim di Media Sosial bertema Strategi Komunikasi Digital: Pembuatan Konten Kreatif hingga Distribusi Konten di Media Digital, di Gedung Olah Bebaya, Kompleks Lamin Etam, Rabu (14/1/2026).

Menurut Gus Ipang, pemerintah harus mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. Komunikasi yang baik bukan sekadar menyampaikan informasi, tetapi juga membangun narasi yang jujur, empatik, dan mudah dipahami publik. Tanpa itu, kerja keras pemerintah bisa tenggelam di tengah banjir opini dan disinformasi.
Ia mengajak seluruh jajaran Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, mulai dari gubernur dan wakil gubernur hingga kepala organisasi perangkat daerah (OPD), untuk selalu peka terhadap keluhan masyarakat. Empati, kata dia, adalah fondasi utama komunikasi publik yang efektif.

Gus Ipang kemudian mengibaratkan Kalimantan Timur sebagai sebuah kapal pinisi yang berlayar di lautan luas. Gubernur dan wakil gubernur berperan sebagai nakhoda, para kepala OPD sebagai mualim yang membantu menentukan arah, sementara seluruh rakyat Kaltim adalah penumpangnya.

“Ibarat sebuah pinisi di lautan, gubernur dan wakil gubernur harus mampu menghadirkan rasa aman dan yang terpenting membawa seluruh penumpang sampai tujuan dengan baik,” tegasnya.
Dalam konteks itu, informasi kinerja pemerintah harus disampaikan secara terbuka dan berkesinambungan. Gus Ipang mengingatkan, kerja tanpa narasi akan membuat pemerintah dianggap tidak bekerja.

“Kinerja tanpa narasi membuat pemerintah dianggap tidak bekerja. No picture, hoaks. Kebenaran yang tidak diceritakan akan kalah dengan kebohongan yang terus diulang,” ujarnya lugas.
Namun demikian, ia juga mengingatkan bahwa tidak semua kabar baik mudah diterima publik. Di media sosial, berita buruk cenderung lebih cepat viral dibandingkan good news. Karena itu, setiap OPD diminta ekstra hati-hati dalam menyampaikan informasi.

“Satu kesalahan kecil bisa berkembang menjadi krisis besar. Sebaliknya, citra positif bisa mendorong kemajuan karier secara signifikan,” katanya, seraya mencontohkan kisah Rizki Juniansyah, atlet berprestasi anggota TNI yang naik pangkat dua tingkat usai meraih emas dan memecahkan rekor dunia di SEA Games.

Menurut Gus Ipang, dunia kini semakin terbuka. Hal-hal yang dahulu terasa mustahil, kini sangat mungkin terjadi. Karena itu, pemimpin daerah dan seluruh perangkatnya dituntut adaptif, mau berubah, dan memahami dinamika komunikasi digital.

“Zaman sudah berubah. Jika kita tidak berubah, tidak adaptif, dan tidak memahami perubahan itu, kitalah yang akan dirugikan,” ujarnya.
Ia menegaskan kembali bahwa pesan ini bukan ditujukan kepada individu tertentu, melainkan kepada institusi pemerintahan secara keseluruhan. “Sekali lagi, ini bukan soal gubernur dan wakil gubernur, melainkan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur,” tutup Gus Ipang.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Timur, Sri Wahyuni, mengingatkan para Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) di lingkungan Pemprov Kaltim agar semakin siap menghadapi tantangan keterbukaan informasi. Ia menekankan pentingnya penyajian informasi yang baik, memadai, dan responsif terhadap kebutuhan publik.

“Mudah-mudahan di awal tahun ini PPID Kaltim semakin siap. Tidak hanya menyiapkan dokumen informasi yang diperlukan, tetapi juga memahami cara mengelola informasi tersebut agar dapat disampaikan dan diketahui masyarakat dengan baik,” harap Sri Wahyuni.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *