“Nusantara dalam Pelukan Prabowo: Bukan Sekadar Seremoni, Tapi Janji Keberlanjutan”
SENIN sore (12/1), deru mesin helikopter Super Puma di langit Penajam Paser Utara bukan sekadar penanda kehadiran fisik seorang kepala negara. Pendaratan perdana Presiden Prabowo Subianto di landasan helikopter Istana Garuda adalah sebuah pernyataan politik yang paling dinanti: IKN tidak akan menjadi “proyek yang ditinggalkan”.
Selama beberapa bulan terakhir, publik sempat dihantui spekulasi. Narasi mengenai efisiensi anggaran hingga prioritas program makan bergizi gratis sempat memicu tanya; apakah IKN akan melambat? Namun, kunjungan ini—lengkap dengan “pasukan penuh” menteri strategis seperti Menko Infrastruktur AHY hingga Menteri ESDM Bahlil Lahadalia—adalah jawaban lugas. Prabowo tidak sedang bermain aman; ia sedang tancap gas.
Titik Tanpa Balik (No Point of Return)
Angka Rp100 triliun yang telah digelontorkan bukan jumlah yang kecil. Menelantarkan IKN saat ini bukan hanya kerugian ekonomi, melainkan “bunuh diri” kredibilitas pemerintah di mata investor. Target 2028 untuk merampungkan ekosistem legislatif dan yudikatif adalah tenggat waktu yang ambisius namun realistis jika ritme kerja tetap dijaga.
Namun, kita juga harus jujur. Membangun ibu kota bukan cuma soal memindahkan gedung dan kursi. Tantangan terbesarnya adalah menghidupkan “roh” dari kota itu sendiri. Bagaimana memastikan 15 ribu ASN yang akan pindah tidak merasa “dibuang” ke hutan, melainkan menjadi bagian dari peradaban baru yang canggih dan inklusif?
Lebih dari Sekadar Beton
IKN di era Prabowo memikul beban ganda. Ia harus menjadi simbol transformasi ekonomi—seperti yang terlihat dari lonjakan investasi pertanian Kaltim yang menyentuh Rp8,9 triliun—sekaligus menjadi solusi atas masalah ekologi dan tata kota yang selama ini menghantui kota-kota besar kita.
Kita mengapresiasi langkah Presiden yang memilih bermalam dan merasakan langsung denyut nadi Nusantara. Ini memberikan sinyal kepada dunia usaha bahwa pemerintah “all-in”. Spekulasi bahwa IKN adalah proyek mubazir harus dijawab dengan fungsionalitas: segera isi rusun yang kosong, aktifkan perkantoran, dan pastikan ekosistem sosialnya tumbuh.
Catatan Penutup
Kunjungan ini adalah babak baru. Jika di era sebelumnya IKN adalah tentang “memulai”, maka di era Prabowo, IKN adalah tentang “menuntaskan”. Publik tidak lagi butuh sekadar foto di Titik Nol; publik butuh melihat IKN berfungsi sebagai mesin pertumbuhan baru bagi Indonesia Sentris.
Selamat bekerja di rumah baru, Pak Presiden. Nusantara menanti bukti bahwa janji keberlanjutan bukan hanya manis di atas kertas, tapi nyata di atas tanah Kalimantan. (setia Wirawan)