Subscribe

Cahaya dari Balikpapan: Menakar Optimisme Prabowo Menuju Kedaulatan Pangan dan Energi

3 minutes read

DI BAWAH langit Kalimantan yang mulai meredup, Presiden Prabowo Subianto berdiri tegak di atas podium peresmian kilang minyak Balikpapan. Nada suaranya tidak sekadar formalitas protokoler; ada getaran optimisme yang meluap—sebuah pesan kuat bagi mereka yang selama ini meragukan visi besar pemerintahannya.

Fokus sang Presiden kini terkunci pada dua pilar utama: Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Swasembada Total. Meski dihantam berbagai keraguan publik di awal masa jabatan, Prabowo baru saja membawa “oleh-oleh” kemenangan yang mengejutkan banyak pihak.

Memangkas “Hutan” Birokrasi: Rahasia di Balik Swasembada Beras

Banyak yang bertanya-tanya, bagaimana mungkin target swasembada beras empat tahun bisa dicapai hanya dalam waktu satu tahun? Jawabannya ternyata bukan hanya di lahan sawah, melainkan di atas meja kerja kepresidenan.

Prabowo mengungkapkan bahwa saat ia dilantik, sektor pertanian terjebak dalam labirin birokrasi yang menyesakkan. Ada 145 peraturan yang tumpang tindih, mengharuskan petani dan penyedia sarana produksi melewati 13 kementerian dan lembaga hanya untuk urusan pupuk.

“Terlalu banyak aturan hanya untuk mendapatkan pupuk dan membangun pertanian,” tegas Prabowo. Langkah berani pun diambil: ia memangkas ratusan aturan tersebut menjadi satu aturan dan satu tanda tangan.

Penyederhanaan radikal ini berdampak langsung pada kantong petani. Harga pupuk yang selama ini mahal akibat rantai birokrasi yang panjang berhasil ditekan secara signifikan. Menteri Pertanian Amran Sulaiman bahkan melaporkan efisiensi harga bisa mencapai 25 persen.

“Saya bilang tidak, biar tetap ada untung untuk pengusaha. Sudah cukup ditekan 20 persen,” ujar Prabowo, menunjukkan sisi pragmatisnya yang tetap menjaga keseimbangan ekosistem bisnis sambil memprioritaskan keterjangkauan bagi petani.

Suara dari Akar Rumput: Pupuk Mudah, Perut Kenyang

Optimisme ini ternyata mulai merembes hingga ke tingkat akar rumput. Di sudut pasar tradisional Balikpapan, Siti Aminah (45), seorang pedagang nasi campur, mengaku mulai merasakan dampaknya secara tidak langsung.

“Dulu pasokan beras sering tersendat karena katanya petani susah dapat pupuk. Tapi sekarang barangnya stabil. Kalau beras aman, saya tidak pusing lagi jualan nasi ke anak-anak sekolah,” ujar Siti.

Di sisi lain, para siswa pun menantikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kini didukung oleh rantai pasok lokal yang lebih efisien. Dengan harga pupuk yang turun 20 persen, produktivitas petani meningkat, memastikan bahan baku MBG selalu tersedia di “Dapur Komunitas” tiap kecamatan.

Peta Jalan Energi: Dari Sumur Tua hingga B40

Namun, kedaulatan bangsa juga harus berdiri di atas kaki energi. Di Balikpapan, Prabowo memaparkan strategi “perang” energi: optimalisasi sumur idle, sentuhan teknologi pada sumur tua, hingga Mandatory B40.

Rahmad (34), seorang teknisi pengeboran, melihat langkah ini sebagai angin segar. “Kami melihat banyak sumur yang sebenarnya masih punya potensi tapi dibiarkan mati bertahun-tahun. Ini bukan cuma soal nambah produksi minyak, tapi juga soal lapangan kerja,” katanya.

Penutup: Siklus Kemandirian yang Terintegrasi

Dengan swasembada beras yang resmi tercapai per 31 Desember 2025 dan reformasi pupuk yang sukses menekan biaya produksi, program MBG kini memiliki fondasi yang kokoh. Ini adalah sebuah siklus: birokrasi dipangkas, biaya pupuk turun, produksi pangan melimpah, dan energi dari dalam negeri menggerakkan distribusi makanan ke piring-piring anak bangsa.

“Beras yang awalnya kita pesimis saja ternyata bisa kita taklukkan. Energi pun demikian,” pungkas Prabowo. Di Balikpapan, optimisme itu kini telah berubah menjadi bukti nyata—bahwa dengan satu tanda tangan yang tepat, nasib jutaan petani dan masa depan energi nasional bisa berubah arah menuju kejayaan. (ray)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *