Dari Berau ke Jerman: Kakao Kaltim Resmi Masuk “Liga” Cokelat Dunia!
Samarinda , nusaetamnews.com : Siapa sangka, di balik dominasi tambang dan batubara, Kalimantan Timur punya harta karun tersembunyi yang kini bikin lidah orang Eropa jatuh cinta. Yup, Kakao Fermentasi Kaltim resmi mencetak sejarah dengan menembus pasar Jerman!
Gak main-main, ekspor perdana dari Kampung Merasa, Kabupaten Berau, ini langsung dipinang oleh Urwald Schokolade, sebuah pabrik cokelat elit di Jerman. Ini jadi bukti kalau kakao kita sudah punya “kelas” di industri cokelat premium dunia.
Lebih dari Sekadar Biji Cokelat
Kepala Dinas Perindagkop Kaltim, Heni Purwaningsih, bilang kalau kakao adalah komoditas yang paling siap go international dibanding yang lain.
“Kakao Kaltim itu punya vibe yang beda. Kadar kakaonya tinggi dan punya signature taste yang khas. Itu yang bikin buyer luar negeri ketagihan,” kata Heni, Selasa (16/12).
Selain Berau, daerah lain juga mulai pamer kekuatan:
- Kutai Timur: Mulai dilirik pasar Prancis dan Jerman.
- Mahakam Ulu: Punya kualitas yang disebut-sebut sanggup saingi produk Malaysia.
- Turki: Jadi pasar baru yang potensial lewat skema business matching.
Visi “Harum”: Bye-bye Ketergantungan Tambang!
Gubernur Kaltim, Dr. H. Rudy Mas’ud (Gubernur Harum), lagi gencar-gencarnya mendorong transisi ekonomi dari tambang ke sektor perkebunan. Beliau yakin banget kalau kakao adalah masa depan ekonomi baru Benua Etam.
“Saya sudah cobain sendiri cokelat lokal di Kutai Timur, rasanya juara! Ini bukti kita punya daya saing tinggi,” ungkap Gubernur Harum penuh optimis.
Lewat Program Unggulan Jospol, Pemprov Kaltim fokus pada hilirisasi. Intinya, kita nggak mau cuma jual biji mentah, tapi pengen nilai tambahnya (seperti pengolahan jadi cokelat siap saji) dirasakan langsung oleh petani di daerah.
Tantangan di Balik Peluang
Meskipun sudah ekspor, tantangan terbesarnya ada di sektor hulu. Dengan luas lahan sekitar 5.852 hektare dan melibatkan lebih dari 5.000 kepala keluarga, konsistensi produksi jadi kunci.
“Permintaan pasar global itu gede banget. Tugas kita sekarang adalah memperkuat produksi di tingkat petani supaya pasokannya stabil terus,” tambah Heni.
Saat ini, harga biji kakao kering di tingkat petani sudah menyentuh angka Rp35.000 – Rp38.000 per kg. Cukup menjanjikan buat jadi sumber cuan baru bagi warga lokal, kan? (ray)