Cabai Rawit Kaltim Ngegas ke Rp74 Ribu! Pemprov Siaga I, Mahulu Kritis Stok Pangan Nol!
Samarinda, nusaetamnews.com : Guys, kabar darurat dari dapur! Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura (DPTPH) Kalimantan Timur lagi gercep abis ngendaliin inflasi dan ngegas Gerakan Pangan Murah (GPM). Kenapa? Karena harga komoditas pangan, terutama cabai rawit, lagi melambung tinggi!
Kepala DPTPH Kaltim, Siti Farisyah Yana, di Samarinda, Jumat, bilang status ketahanan pangan provinsi kita ada di level WASPADAI!
“Kami terus kuatin strategi keterjangkauan harga dan kelancaran distribusi. Status ketahanan pangan kita secara umum ada di level waspada,” ujar Yana.
Harga Cabai Bikin Dompet Menjerit
Data harga yang bikin melotot:
- Cabai Rawit: Harganya udah nyentuh Rp74.200 per kilogram! Itu artinya melonjak 31,89 persen di atas Harga Eceran Tertinggi (HET). Pedas di mulut, pedas di kantong!
- Komoditas Lain: Jagung pipilan kering dan bawang merah juga terpantau naik signifikan.
Meski begitu, harga beras, gula, dan minyak goreng kemasan masih kalah dan relatif stabil.
Mahulu Kondisi KRITIS, Stok Pangan Kosong!
Pemerintah daerah lagi fokus banget karena Indeks Ketahanan Pangan (IKP) per Oktober 2025 nunjukin 40 persen wilayah Kaltim (termasuk Kabupaten Mahakam Ulu/Mahulu) masuk kategori rentan.
Yang paling bikin shock: Mahakam Ulu dicatat punya posisi stok cadangan pangan nol kilogram alias KOSONG SAMA SEKALI!
- Sisi Terang: Sebaliknya, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) jadi juara stok pangan dengan total cadangan akhir mencapai lebih dari 294 ribu kilogram.
Jurus Gerakan Pangan Murah (GPM) Dikerahkan
Buat atasi ketimpangan dan lonjakan harga, pemerintah udah nge-gass 482 kali pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM) sepanjang 2025.
- Paling Intensif: Kota Balikpapan jadi wilayah yang paling sering diintervensi pasar, dengan 179 kali GPM.
- Paling Sedikit: Kutai Timur dan Mahakam Ulu tercatat paling jarang.
Strategi andalan yang dioptimalkan adalah 4K: Keterjangkauan harga, Ketersediaan pasokan, Kelancaran distribusi, dan Komunikasi efektif.
“Kami harap langkah ini bisa stabilin harga dan pastiin ketersediaan pangan jelang akhir tahun,” tutup Yana. (ant/one)