Subscribe

7 Desa di Kutim Terendam Banjir, Bupati Soroti Deforestasi di Hulu

2 minutes read

Sangatta – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) langsung gerak cepat (gercep) koordinasi mitigasi banjir yang kini merendam tujuh desa. Aksi tanggap darurat sudah berjalan sejak Minggu malam (7/11).

“Kemarin kita sudah gelar rapat, dan tim sudah bergerak melakukan koordinasi di Kecamatan Muara Wahau, Kombeng, Karangan, dan Bengalon,” ujar Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman, di Sangatta, Senin (8/12).

Biang Kerok Banjir: Hutan Gundul Jadi Kebun Sawit

Bupati Ardiansyah secara terang-terangan menyoroti faktor pemicu utama banjir: perubahan kondisi hulu sungai.

“Kita tahu di daerah hulu ada penggundulan, status hutan berubah menjadi lahan perkebunan kelapa sawit,” tegasnya, mengindikasikan bahwa deforestasi menjadi salah satu biang kerok bencana hidrometeorologi ini.

Ardiansyah berharap kondisi Kutim tidak berkembang menjadi bencana yang lebih parah. “Mudah-mudahan tidak sejauh itu. Selama ini kita hanya menghadapi banjir, bukan banjir bandang seperti di daerah lain,” katanya.

Tujuh Desa Under Water di Muara Wahau

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kutim, Muhammad Naim, mengabarkan bahwa banjir di beberapa kecamatan sudah mulai surut. Namun, tujuh desa di Kecamatan Muara Wahau masih terendam.

Tujuh desa tersebut adalah:

  1. Muara Wahau
  2. Nehes Liah Bing
  3. Jak Luay
  4. Long Wehea
  5. Dabaq
  6. Diaq Lay
  7. Bea Nehas

Naim menjelaskan, banjir terjadi akibat hujan intensitas tinggi yang memicu luapan air Sungai Wahau hingga menggenangi permukiman warga.

“Ketinggian air terus naik karena hujan di sana masih turun. Evakuasi belum ada laporan. Kalau tidak ada perkembangan (situasi darurat), besok pagi tim BPBD akan turun ke lokasi,” jelasnya.

BPBD Kutim juga terus memantau alert dari BMKG terkait potensi hujan deras, demi mempercepat mitigasi bencana. (ant/one)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *