Selamat Tinggal Belas Kasihan! Dinsos Kaltim Upgrade Total: Disabilitas Wajib Produktif dan Berdaya
SAMARINDA, NUSAETAMNEWS.COM : Mindset lama harus dirombak! Dinas Sosial (Dinsos) Provinsi Kalimantan Timur secara tegas menyatakan komitmennya untuk mengubah pola penanganan penyandang disabilitas dari yang tadinya cuma berlandaskan belas kasihan (charity) menjadi pendekatan yang inklusif dan produktif.
Kepala Dinsos Kaltim, Andi Muhammad Ishak, menekankan bahwa fokus kini adalah pemberdayaan total.
“Pendekatan kita tidak lagi pendekatan charity atau belas kasihan kepada mereka, tapi betul-betul pendekatan pemberdayaan agar mereka berpartisipasi dalam pembangunan,” kata Andi Ishak, Sabtu.
Revolusi Stigma: Langsung Dorong ke Dunia Kerja
Pemerintah daerah tidak main-main. Mereka membuka ruang seluas-luasnya, mulai dari perencanaan hingga pemantauan pembangunan, dan yang paling krusial: penghapusan stigma ketidakberdayaan.
Cara paling efektif menghapus stigma? Menghubungkan disabilitas langsung ke dunia kerja!
- Kuota 1% Wajib Dipatuhi: Dinsos secara intensif mendorong dunia usaha untuk mematuhi ketentuan UU, yaitu menyediakan kuota 1% pekerja dari kalangan penyandang disabilitas.
- Data Siap Serap: Dinsos Kaltim menggandeng Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Kaltim untuk memetakan data riil tenaga kerja disabilitas yang siap diserap pasar.
- Modal Awal Mandiri: Alumni pelatihan disabilitas yang telah berjalan dua tahun juga diberi paket peralatan usaha (tool kit) sebagai modal start-up untuk merintis kemandirian ekonomi.
Aplikasi Digital Kunci Pemerataan: Sida Bebagi
Untuk memastikan pemerataan kesempatan, Dinsos terus memperbaiki basis data melalui aplikasi digital Sida Bebagi. Saat ini, tercatat sekitar 12.000 penyandang disabilitas di Kaltim.
Validasi data ini sangat penting agar bantuan, terutama pelatihan, tidak tumpang tindih dan dapat menyentuh penerima manfaat secara bergilir setiap tahunnya.
“Sinergi lintas sektor antara pemerintah dan swasta diharapkan mampu mewujudkan iklim ketenagakerjaan yang ramah disabilitas di Kalimantan Timur,” pungkas Andi. (Ant/one)