Subscribe

Ganasnya 20 Tahun di Lembah Narkoba: Kisah Anton yang Kehilangan Segalanya

3 minutes read

Sejak gorden hidupnya tersingkap untuk narkoba, Anton (bukan nama sebenarnya), pria paruh baya tinggal di kota Samarinda telah menghabiskan dua dekade dalam pusaran gelap yang tak terhenti. Dua puluh tahun. Waktu yang cukup untuk membangun sebuah dinasti, namun bagi Anton, waktu itu hanya cukup untuk menghancurkan jiwa dan raganya hingga tak bersisa.

Ia bukanlah orang baru dalam rimba zat adiktif. Berbagai jenis narkoba pernah ia cicipi, namun “teman setia” terakhirnya yang paling ganas adalah sabu-sabu. Kisah Anton adalah sebuah cermin yang menunjukkan betapa cepat dan brutalnya narkoba merenggut segala hal yang dimiliki manusia.

Kebakaran yang Bermula dari Diri Sendiri

“Seorang pecandu, pada awalnya, akan menghabisi apa yang ada di badannya. Kemudian, ia akan menghabisi apa yang ada di rumah. Terakhir, ia akan menghabisi apa yang ada di rumah orang lain.” Ujar anton lirih Ketika ditemui media ini beberapa waktu yang lalu.

Fase pertama, “menghabisi badan,” adalah saat ia mulai mengorbankan kesehatan, waktu, dan harga dirinya. Kantung mata menghitam, berat badan menyusut, dan pikiran yang seharusnya jernih kini dipenuhi halusinasi dan kebutuhan akan dosis berikutnya. Ia tidak lagi hidup untuk tujuan, melainkan untuk zat.

Karir, Harta, dan Kehancuran Total

Dua puluh tahun bukanlah masa yang singkat. Selama itu, narkoba telah menjadi manajer keuangannya, penasihat karirnya, dan perusak hubungannya yang paling efektif.

Pekerjaan Berantakan: Komitmen dan fokus adalah barang mewah yang tak mampu ia beli. Pekerjaan Anton terbengkalai. Waktu yang seharusnya dihabiskan untuk membangun karir, ia habiskan untuk mencari, memakai, dan pulih dari efek sabu. Hasilnya? Ia dipecat.

Harta Benda Ludes: Setelah badan habis, giliran rumahnya yang menjadi sasaran, sesuai fase kedua pengakuannya. Harta yang dikumpulkan dengan susah payah lenyap dalam sekejap. Benda-benda berharga, perhiasan, bahkan mungkin barang-barang kenangan, semuanya diuangkan demi satu linting atau satu hisapan lagi. Narkoba tidak hanya memiskinkan dompet, tapi juga mengosongkan rumahnya dari segala makna materi.

Kini, Anton berdiri di titik nol. Jiwa dan raganya sakit, dompetnya kosong, dan ia harus menanggung malu karena “menghabisi apa yang ada di rumah orang lain”—mungkin itu adalah pinjaman, pengkhianatan kepercayaan, atau penipuan yang ia lakukan demi memenuhi kebutuhan adiksi.

Mencari Secercah Harapan

Kisah Anton adalah sebuah peringatan keras bahwa narkoba bukanlah perjalanan yang bisa dihentikan kapan saja. Ia adalah monster yang merangkak perlahan, memeluk korbannya, dan baru melepaskan setelah semuanya hancur. Ia tidak hanya merusak fungsi organ, tetapi juga menghapus eksistensi sosial dan ekonomi seseorang.

Sekarang, Anton tengah berjuang memenangkan perang terakhir: perang melawan dirinya sendiri dan bayangan masa lalu. Ia telah membayar harga yang terlalu mahal untuk sebuah kesenangan sesaat. Dua puluh tahun kegelapan telah berlalu. (One)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *