Ini Dia Warisan Budaya Kaltim, Yang Dilindungi & Diperjuangkan
Nusaetamnew.com : Kalimantan Timur, dengan keragaman suku Dayak, Kutai, dan Paser, memiliki warisan budaya yang sangat kaya dan kini menjadi prioritas pelestarian, terutama menghadapi derasnya modernisasi dan perkembangan IKN.
1. Warisan Budaya Takbenda (WBTB)
Fokus utama adalah pada pengajuan dan pelestarian WBTB, yaitu tradisi dan ekspresi yang hidup di masyarakat:
- Seni Pertunjukan dan Adat Istiadat:
- Tari Hudoq Kawit dan Nemlaai (dari Mahakam Ulu) – Ritual tarian syukur pascapanen yang berkaitan erat dengan kepercayaan dan siklus alam.
- Beseprah dan Tari Topeng Penembe (dari Kutai Kartanegara).
- Bahasa Daerah: Ini menjadi tantangan besar. Berbagai Bahasa Ibu dari sub-etnis Dayak (seperti Punan, Basap, Kenyah, Bahau) terancam punah karena minimnya penutur di kalangan generasi muda. Upaya pelestarian bahasa ini menjadi prioritas tinggi.
- Kuliner Khas: Beberapa kuliner telah ditetapkan sebagai WBTB, seperti:
- Amplang (kerupuk ikan khas Kaltim).
- Amparan Tatak (kue tradisional).
- Bubur Peca (kuliner khas Samarinda).
- Kerajinan: Contohnya Sulam Tumpar (dari Kutai Barat).
- Naskah Kuno/Manuskrip: Pelestarian naskah kuno yang bernilai sejarah tinggi dilakukan melalui rapat kerja dan pendokumentasian.
2. Cagar Budaya dan Warisan Budaya Benda
- Situs Bersejarah: Baru-baru ini, situs seperti Masjid Jami Aji Amir Hasanuddin (Kukar) dan Komplek Museum Sadurengas (Paser) diakui sebagai Cagar Budaya Nasional. Penetapan ini memperkuat perlindungan hukum dan pengelolaan kawasan tersebut.
- Sistem Pengecekan: Pelestarian juga mencakup upaya untuk mendokumentasikan dan memelihara catatan-catatan sejarah masa lalu yang terancam hilang. (ant/one)
Mengenal Tujuh Dimensi Pengukur IPK (Indeks Pembangunan Kebudayaan)
Nusaetamnews.com : Untuk mengetahui seberapa maju upaya pembangunan kebudayaan suatu daerah, Pemerintah Indonesia menggunakan Indeks Pembangunan Kebudayaan (IPK). IPK mengukur capaian pembangunan kebudayaan dalam skala 0 hingga 100.
IPK memiliki tujuh dimensi utama yang menjadi indikator kinerja yang ingin ditingkatkan oleh Disdikbud Kaltim:
| Dimensi IPK | Fokus Pengukuran | Relevansi dengan Kaltim |
| 1. Ekonomi Budaya | Kontribusi sektor kebudayaan terhadap ekonomi (misalnya PDB dari industri kreatif, seni, dan pariwisata budaya). | Mengintegrasikan WBTB kuliner dan seni pertunjukan ke dalam pariwisata dan ekonomi kreatif. |
| 2. Pendidikan | Akses masyarakat terhadap pendidikan berbasis kebudayaan (misalnya persentase sekolah yang mengajarkan mulok bahasa daerah dan ekstrakurikuler kesenian). | Mendorong regenerasi penutur Bahasa Ibu dan pelaku seni tradisi di sekolah. |
| 3. Ketahanan Sosial Budaya | Peran kebudayaan dalam memperkuat solidaritas sosial, toleransi, dan penghargaan terhadap keberagaman. | Mengukur tingkat kerukunan dan persahabatan antar rumah tangga beda suku/agama. |
| 4. Warisan Budaya | Upaya pelestarian dan pengelolaan aset budaya (benda dan takbenda), termasuk pendokumentasian dan perlindungan cagar budaya. | Penetapan dan pengelolaan Cagar Budaya (Masjid Jami, Sadurengas) dan WBTB. |
| 5. Ekspresi Budaya | Tingkat partisipasi masyarakat dalam kegiatan seni dan budaya (misalnya pameran, festival, dan pertunjukan). | Mengadakan acara masif seperti Pekan Kebudayaan Daerah (PKD) Kaltim. |
| 6. Literasi Budaya | Tingkat pemahaman dan pengetahuan masyarakat terhadap kebudayaan dan nilai-nilai lokal. | Program-program edukasi tentang sejarah dan filosofi budaya lokal. |
| 7. Kesetaraan Gender | Mengukur kesetaraan dalam akses dan partisipasi di sektor kebudayaan (aspek ini kadang diintegrasikan dalam dimensi lain atau berdiri sendiri). | Memastikan perempuan memiliki peran yang setara dalam kegiatan dan kepengurusan lembaga budaya. |
Dengan strategi Tiga Pilar (Data, SDM, Sinergi), Kaltim berharap dapat meningkatkan nilai di ketujuh dimensi ini, menjadikan budayanya sebagai engine pembangunan manusia yang berkarakter kuat dan berdaya saing global. (one)