Subscribe

Samarinda Gak Kelar-Kelar Banjir! Pakar Ungkap Akar Masalah: Mulai dari Tambang Sampai Beda Visi Pemimpin

2 minutes read

Samarinda, nusaetamnews.com : Banjir Samarinda yang sering bikin kesel ternyata masalahnya kompleks, gak cuma soal hujan deras. Warsilan, Pakar Perencanaan Wilayah dan Kota dari Universitas Mulawarman, membongkar tuntas kenapa Samarinda selalu jadi “langganan genangan”.

Menurut Warsilan, kunci penanganan ada pada pemahaman Daerah Aliran Sungai (DAS). Tapi masalahnya, effort penanggulangan banjir di Kaltim saat ini masih ‘beda frekuensi antara Pemprov dan Pemkot.

“Penyebab banjir di Samarinda tidak hanya karena hujan, tetapi juga akibat kombinasi antara pasang surut air laut, kondisi topografi datar, sedimentasi di muara, dan lemahnya sinkronisasi program antara pemerintah kota dan provinsi,” kata Warsilan.

Tiga Masalah Utama Samarinda yang Bikin Air Gak Mau Pergi

  1. Topografi (The Zero Point Problem): Samarinda berada di titik nol, hampir sejajar dengan permukaan laut. Result-nya: ketika hujan deras ketemu pasang laut, air stuck! Air baru bisa keluar kalau pasang surut, makanya genangan bisa bertahan berjam-jam bahkan berhari-hari—beda banget sama Balikpapan yang lebih miring.
  2. Sedimentasi Muara: Sungai Mahakam yang melintasi Samarinda menghadapi sedimentasi tinggi di muaranya. Ini menghambat aliran air ke laut. Padahal, muara ini harusnya dirawat rutin agar lalu lintas kapal dan air lancar.
  3. Hulu yang ‘Sakit’: Aktivitas tambang di hulu memengaruhi kualitas air dan meningkatkan sedimentasi sungai. Air dari hulu (termasuk dari DAS Karangmumus, Makam Hulu, hingga Kaltara) ikut memperparah volume air di tengah kota.

Solusi yang Wajib Gaspol: Sinkronisasi dan Embung!

Warsilan menyoroti perlunya solusi teknis dan non-teknis yang terintegrasi:

  • Sinkronisasi Program: Ini mandatory! Gubernur fokus revitalisasi DAS Makam untuk transportasi dan pengerukan muara, sementara Wali Kota fokus penanganan banjir perkotaan. Visi kedua pihak harus disatukan agar effort-nya maksimal.
  • Pembangunan Embung di Hulu: Embung adalah solusi teknis penting. Wadah penampungan sementara ini berfungsi sebagai ‘rem air’ dari hulu agar tidak langsung nyelonong ke bawah saat hujan.
  • Penanganan Tambang: Aktivitas di hulu (tambang dan lainnya) harus ditangani serius karena berdampak langsung pada kualitas air dan tingkat lumpur di Samarinda.

Intinya: Banjir Samarinda bukan cuma bencana alam, tapi juga masalah tata ruang dan koordinasi pemerintahan. Perlu kerja bareng yang solid untuk mengatasi problem ini dari hulu sampai muara! (ant/one)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *