Samarinda: The OG Kota Tepian, Lahir dari Deal dengan Orang Bugis!
Halo Warganet Samarinda dan Kaltim! Kalian mungkin kenal Samarinda sebagai Ibu Kota Provinsi yang lagi hype karena dekat IKN dan punya iconic tunnel (soon!), tapi tahu nggak sih, kalau sejarah kota ini se-kuno dan se-keren itu?
Jauh sebelum booming batubara dan jembatan Instagramable, Samarinda lahir dari sebuah kesepakatan diplomatik antara Kesultanan Kutai dan para trader ulung dari Sulawesi! Ini dia rangkuman sejarah terbentuknya Kota Samarinda, spill the tea!

Act I: Prequel di Era Kutai (Abad ke-13)
Sebelum nama Samarinda trending, wilayah ini sudah dihuni oleh Suku Kutai Kuno (Melanti). Manuskrip kuno Kesultanan Kutai Kertanegara Ing Martadipura mencatat adanya enam perkampungan awal di tepian Mahakam:
- Enam Kampung Original: Pulau Atas, Karangasan (Karang Asam), Karamumus (Karang Mumus), Luah Bakung (Loa Bakung), Sembuyutan (Sambutan), dan Mangkupelas (Mangkupalas).
- Awalnya Sawah: Sampai pertengahan abad ke-17, wilayah yang kita kenal sebagai downtown Samarinda saat ini, hanyalah lahan persawahan dan perladangan di sepanjang Sungai Karang Mumus dan Karang Asam.
Act II: The Great Migration & Deal dengan Bugis (Tahun 1668)
Inilah turning point lahirnya Samarinda!
- Pemain Baru Datang: Pada tahun 1668, rombongan besar Orang Bugis Wajo dari Sulawesi, yang dipimpin oleh La Mohang Daeng Mangkona, tiba di Kutai. Mereka adalah para pelaut dan pedagang ulung yang mencari tempat bermukim baru karena konflik di daerah asal.
- The Royal Deal: Sultan Kutai (Kemungkinan Sultan Anom Pandji Mendapa) menyambut mereka dan membuat perjanjian: Orang Bugis boleh tinggal dan berdagang, asalkan mereka mau membantu pertahanan Kutai dari musuh.
- Lahirnya “SAMARENDAH”: Rombongan Bugis memilih Muara Karang Mumus (daerah Selili Seberang) sebagai lokasi. Mereka membangun rumah rakit di atas air. Konsep unik yang mereka terapkan adalah semua rumah harus sama tinggi dan tidak boleh ada yang lebih tinggi dari yang lain, sebagai simbol kesetaraan sosial (egaliter) dan tidak adanya perbedaan derajat.
- Versi Paling Populer: Kondisi ini, yaitu daratan dan permukaan air sungai yang sama-sama rendah, atau rumah-rumah yang didirikan sama rendah, melahirkan sebutan “SAMARENDAH” (pengucapan e seperti pada kata ‘beta’).
- Ejaan ini perlahan berubah menjadi SAMARINDA.
Hari Jadi Resmi Kota Samarinda ditetapkan pada tanggal 21 Januari 1668 M, merujuk pada permulaan bermukimnya Orang Bugis Wajo di lokasi tersebut, yang menjadi cikal bakal kota pelabuhan modern.
Act III: Post-Independence & The Green Gold Era
- Era Belanda: Samarinda mulai dikembangkan sebagai pusat administrasi dan perdagangan oleh Belanda (setelah 1844).
- Status Ibukota: Pasca-kemerdekaan, Samarinda ditetapkan sebagai ibu kota Provinsi Kalimantan Timur pada tahun 1957.
- Perkembangan Administratif:
- 1959: Resmi menjadi Kotapraja.
- 1965: Berubah menjadi Kotamadya.
- 1999: Statusnya ditingkatkan menjadi Kota.
- The Golden Age (1960-an): Samarinda dijuluki “Pusat Emas Hijau” (Kayu & Hasil Hutan) karena kekayaan hutannya yang masif. Kemudian, era ini digantikan oleh “Emas Hitam” (Batubara) yang membuat kota ini booming hingga kini.
Dari kampung Bugis yang menjunjung tinggi kesetaraan di tepi Mahakam, kini Samarinda bertransformasi menjadi Kota Metropolitan Tepian dan semakin vital dengan hadirnya IKN! (one)