Subscribe

Otak Nge-Lag Saat Matematika? Ternyata Ini Alasan Kenapa Kita Gagal Paham Angka!

3 minutes read

Pernah merasa matematika itu seperti bahasa alien, sementara teman sebelah santai saja? Anda tidak sendirian. Misteri di balik kesulitan dan kemudahan memahami matematika ternyata melibatkan plot twist antara genetika, psikologi, dan lingkungan.

Genetika dan Lingkungan: Nature vs Nurture

Penelitian besar oleh ahli genetika Yulia Kovas dari Goldsmiths, University of London, pada ribuan pasang anak kembar mengungkap peran gen:

  • Peran Gen: Anak kembar identik memiliki kemampuan matematika yang jauh lebih mirip daripada kembar non-identik. Ini menunjukkan genetik ikut berperan, bukan hanya lingkungan rumah.
  • Persentase: Pada usia sekolah menengah dan dewasa, komponen genetik dalam kemampuan matematika berkisar 50% hingga 60%.

Namun, Kovas menekankan, lingkungan juga penting. Bahkan hal “acak” seperti yang Anda dengar di radio bisa memicu minat pada matematika. Kabar baiknya, setiap orang bisa meningkatkan kemampuan mereka.

Musuh Terbesar: Kecemasan terhadap Matematika

Iro Xenidou-Dervou, peneliti dari Loughborough University, menyoroti peran pikiran dan emosi. Musuh terbesar performa adalah “kecemasan terhadap matematika”.

“Kecemasan terhadap matematika membuat seseorang menghindari matematika. Penghindaran itu kemudian berujung pada performa yang buruk, dan hasil yang buruk semakin meningkatkan kecemasan terhadap matematika,” — Iro Xenidou-Dervou.

Mekanisme ‘Nge-Lag’:

Ketika cemas, pikiran negatif itu memenuhi ruang berharga dalam working memory (bagian otak tempat proses berpikir berlangsung). Otak jadi overload, menyisakan sedikit kapasitas untuk menyelesaikan soal. Percobaan pada anak usia 9-10 tahun menunjukkan kecemasan tinggi berdampak signifikan pada kemampuan berhitung mental.

Dyscalculia: Ketika Naluri Angka Bermasalah

Ahli neuropsikologi kognitif Brian Butterworth menjelaskan bahwa manusia sejatinya punya naluri bawaan terhadap angka. Tapi, pada 5% populasi, mekanisme bawaan ini tidak berfungsi dengan baik, kondisi yang disebut Dyscalculia.

  • Apa itu Dyscalculia? Kesulitan belajar spesifik dalam memahami dan mengolah angka, diyakini sama umumnya dengan disleksia. Penderitanya kesulitan menghitung aritmetika dasar (misalnya 5×9 atau 6+16).
  • Fondasi Matematika: Xenidou-Dervou membandingkan belajar matematika seperti “membangun dinding bata di dalam pikiran”. Anda tidak bisa melewatkan satu “bata” (konsep dasar), tidak seperti pelajaran sejarah. Fondasi yang kuat sangat penting!

Pelajaran dari Juara Dunia (China & Finlandia)

Laporan PISA (Programme for International Student Assessment) menunjukkan siswa dari China, negara Asia Timur, dan Finlandia secara konsisten menduduki peringkat teratas dalam matematika. Apa rahasianya?

Negara Fokus Utama Budaya Profesi Guru
China Fokus pada pengetahuan, keterampilan, pengalaman, dan cara berpikir matematis dasar. Mendapat “penghormatan tinggi.” Guru mengajar sedikit kelas, punya banyak waktu untuk menyempurnakan materi ajar.
Finlandia Filosofi utama: menjamin keterampilan dasar untuk semua siswa. Guru harus menempuh pendidikan akademik 5 tahun. Profesi sangat dihargai (pelamar bisa 10x lipat dari posisi tersedia).

Intinya, untuk menguasai matematika, butuh kombinasi dukungan genetik, lingkungan positif, melawan kecemasan, dan fondasi yang kuat. Dan yang paling penting: Percaya bahwa Anda mampu! (BBC)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *