Subscribe

Legenda Putri Karang Melenu dan Naga Erau

2 minutes read

Legenda ini menjadi dasar bagi salah satu upacara adat terbesar di Kutai Kartanegara, yaitu Festival Erau, yang dulunya merupakan upacara penobatan raja.

Kelahiran Sang Putri dari Sungai Mahakam

Alkisah, di daerah Hulu Dusun (sekarang Kutai Kartanegara), hiduplah sepasang suami istri yang sudah tua, yaitu Petinggi Hulu Dusun dan istrinya, Babu Jaruma. Mereka selalu berdoa kepada Dewa agar dikaruniai seorang anak.

Suatu hari, Petinggi Hulu Dusun sedang mencari kayu bakar di tengah badai dan hujan deras yang tak kunjung berhenti selama tujuh hari tujuh malam. Tiba-tiba, ia menemukan seekor ulat kecil dengan mata yang bersinar dan memohon belas kasihan. Pasangan suami istri itu pun merawat ulat tersebut dengan penuh kasih sayang layaknya anak sendiri.

Ajaibnya, ulat itu tumbuh sangat cepat dan berubah menjadi seekor Naga. Pasangan itu terkejut, namun tetap menyayanginya.

Suatu malam, Babu Jaruma bermimpi didatangi oleh seorang putri cantik jelmaan naga. Putri itu meminta agar dibuatkan tangga dari rumah mereka menuju ke Sungai Mahakam.

Keesokan harinya, Petinggi Hulu Dusun menuruti mimpi itu. Setelah tangga selesai, naga tersebut merayap turun. Di tepi sungai, naga itu berenang tujuh kali ke hulu dan tujuh kali ke hilir. Pasangan itu terus mengikuti dengan perahu.

Setelah berenang bolak-balik, naga itu tiba-tiba menyelam. Saat naga itu muncul kembali, cuaca seketika berubah. Badai hebat mereda, permukaan sungai dipenuhi buih yang disertai kemunculan pelangi. Dari buih yang bersinar terang itu, muncullah sebuah gong besar yang berhiaskan permata.

Saat gong itu dibuka, di dalamnya terdapat seorang bayi perempuan yang sangat cantik jelita. Pasangan suami istri itu sangat bahagia. Bayi itu kemudian diberi nama Putri Karang Melenu.

Menjadi Ratu Kutai

Putri Karang Melenu tumbuh menjadi gadis yang luar biasa cantik dan bijaksana. Karena kecantikan dan keistimewaannya, ia kemudian dipersunting oleh Raja Kutai Kartanegara pertama, Aji Batara Agung Dewa Sakti.

Dari pernikahan inilah kemudian lahir raja-raja yang memimpin Kerajaan Kutai Kartanegara. Putri Karang Melenu pun dianggap sebagai Ibu Suri dari dinasti raja-raja Kutai.

Kaitannya dengan Budaya

Legenda ini menjadi dasar mitologi kerajaan. Konon, naga yang menjadi jelmaan Putri Karang Melenu itu adalah Naga Erau, yang merupakan simbol kekuatan spiritual dan penjaga alam Kutai.

Untuk menghormati asal-usul kerajaan, tradisi Mengulur Naga dilakukan saat Festival Erau. Dalam ritual ini, patung replika naga diarak dan dilarung (dihanyutkan) di Sungai Mahakam, melambangkan permohonan restu dari leluhur dan menjaga keseimbangan alam. Ini menunjukkan bagaimana legenda ini tetap menjadi bagian yang tak terpisahkan dari adat dan budaya masyarakat Kutai hingga saat ini. (Tim Redaksi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *