Breaking News: Gak Nyangka! Ini Dia ‘Hidden Gem’ Kemiskinan di Jantung Samarinda
SAMARINDA – Di balik gemerlap proyek dan hiruk-pikuk kota, ternyata Samarinda masih menyimpan “PR” serius soal kemiskinan. Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Samarinda menunjukkan peta kemiskinan yang wajib banget kita gaspol atasi.
Bukan lagi bicara desa tertinggal yang biasanya jauh di pelosok (misalnya di Kutai Barat), ini soal kemiskinan di level kelurahan dan kecamatan yang ada di tengah-tengah kita!
Siapa Paling Butuh Disorot?
Berdasarkan data BPS tentang Jumlah Penduduk Miskin menurut Kecamatan di Kota Samarinda tahun 2023, Kecamatan yang mencatatkan angka penduduk miskin paling tinggi adalah:
* Samarinda Utara: 1.166 Jiwa
* Samarinda Ilir: 1.139 Jiwa
Kedua kecamatan ini menjadi top 2 wilayah dengan jumlah penduduk miskin terbanyak. Angka ini signifikan meski secara total penduduk miskin Samarinda turun drastis di tahun 2023 (dari 44.524 jiwa di 2022 menjadi 6.973 jiwa di 2023).
Kelurahan Mana yang Paling Ngenes?
Sayangnya, data BPS yang dipublikasikan hanya sampai level kecamatan. Untuk menemukan kelurahan paling tertinggal atau termiskin secara spesifik (berdasarkan data statistik resmi), kita butuh data yang lebih micro.
Namun, beberapa studi akademis dan fokus program pemerintah seringkali menyoroti beberapa wilayah yang memang jadi titik fokus penanganan kemiskinan. Misalnya, studi kasus tentang pendataan keluarga miskin pernah dilakukan di Kelurahan Sempaja Selatan, Kecamatan Samarinda Utara. Ini memberi sinyal bahwa wilayah-wilayah di Samarinda Utara patut jadi fokus perhatian.
Kenapa Ini Penting buat Anak Muda?
Status kemiskinan dan ketertinggalan bukan cuma soal kurangnya uang, tapi juga akses ke pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur yang keren.
antangan: Bagaimana kita, sebagai generasi milenial dan Gen Z yang tech-savvy, bisa berkolaborasi untuk menciptakan solusi digital atau program sosial yang tepat sasaran di Samarinda Utara dan Samarinda Ilir? Aksi Nyata: Bukan saatnya cuma scroll berita. Ini adalah call to action buat pemerintah, kampus, NGO, dan tentu saja kita, para social changer, untuk memastikan pembangunan Samarinda yang cuan tidak meninggalkan satu pun warganya di belakang! (setia wirawan)