LEGENDA BATU LAMAMPU Menyingkap Kisah “Batu Timbul” yang Sakral di Ujung Utara Kalimantan
Di batas terdepan Indonesia, tempat Pulau Sebatik berhadapan langsung dengan perairan Ambalat, berdiri megah sebuah formasi batu karang yang menyimpan misteri kuno. Tempat itu dikenal sebagai Pantai Batu Lamampu, yang dalam bahasa Suku Tidung berarti “Batu Timbul” atau “Batu yang Mampu (Mengabulkan)”.
Namun, bagi masyarakat Sebatik, Batu Lamampu bukan hanya sekadar pemandangan alam. Ia adalah sebuah tempat keramat yang menjadi saksi bisu janji dan kutukan masa lampau.
Legenda Kapal Nelayan yang Menjadi Batu
Kisah Batu Lamampu berpusat pada sebuah desa nelayan yang terletak di pesisir Sebatik. Konon, dahulu kala, ada seorang nelayan yang sangat kaya raya, namun memiliki sifat kikir dan sombong. Kekayaan yang ia miliki seringkali didapatkan dengan cara tidak jujur, seperti mengambil hasil tangkapan nelayan lain yang lebih lemah.
Pada suatu hari, nelayan sombong ini sedang berlayar menggunakan perahu besar yang penuh dengan hasil tangkapan. Di tengah laut, ia bertemu dengan seorang kakek tua yang perahunya karam dan memohon pertolongan.
“Tolonglah aku, Nak. Aku kelaparan dan kehausan,” pinta kakek tua itu dengan suara lemah.
Dengan angkuh, nelayan kaya raya itu menolak. “Pergilah kau, orang miskin! Hasil tangkapanku ini untuk dijual, bukan untuk dibagi-bagikan pada pengemis di laut!” hardiknya seraya memacu perahunya.
Kutukan Sang Kakek Sakti
Tanpa disadari oleh nelayan sombong itu, kakek tua yang ia tolak adalah seorang pertapa sakti, atau jelmaan dewa penjaga lautan. Merasa sakit hati dan marah atas kesombongan nelayan tersebut, sang kakek mengucapkan sebuah kutukan yang amat pedih.
Kakek tua itu mengacungkan tangannya ke arah perahu. Dalam sekejap, langit berubah gelap, badai besar datang menerjang, dan gelombang tinggi menghantam perahu. Nelayan yang sombong itu pun ketakutan dan berteriak meminta ampun, tetapi semuanya sudah terlambat.
Dalam sekejap mata, perahu beserta seluruh isinya, termasuk nelayan dan hasil tangkapan ikannya, berubah menjadi batu karang besar yang menjorok ke laut. Batu karang itu “timbul” dari air dan tak pernah tenggelam, seolah menjadi monumen abadi atas kesombongan manusia.
Lamampu: Batu yang Mengabulkan Harapan
Meskipun berawal dari kisah kutukan, masyarakat setempat, terutama Suku Tidung, percaya bahwa Batu Lamampu kemudian bertransformasi menjadi batu keramat yang memiliki kemampuan khusus.
Istilah Lamampu yang berarti “yang mampu” atau “yang bisa”, dipercaya merujuk pada kemampuan batu tersebut untuk mengabulkan permohonan, terutama bagi mereka yang datang dengan niat tulus dan hati yang bersih.
Di puncak formasi batu tersebut, sering terlihat tali dan kain berwarna-warni terikat pada akar-akar pohon beringin. Tali-tali ini adalah simbol janji atau permohonan yang ditinggalkan oleh peziarah atau warga yang bernazar agar hajat mereka terkabul—mulai dari memohon keselamatan melaut, kemudahan rezeki, hingga kesembuhan.
Legenda Batu Lamampu di Sebatik hingga kini menjadi pengingat yang hidup bagi masyarakat perbatasan akan pentingnya kerendahan hati, kemurahan hati, dan bahaya dari kesombongan, terutama di hadapan kekuasaan alam. (Tim Redaksi NEN)