Subscribe

Kondisi Terminal Lempake dan Sungai Kunjang Memprihatinkan, Rudy Mas’ud : Jangan Biarkan Aset Pemprov Terbengkalai

4 minutes read

SAMARINDA – Terminal bus milik Pemprov Kalimantan Timur di Samarinda belum mencerminkan fasilitas transportasi publik yang layak. Bangunan kurang terawat, ruang tunggu tidak nyaman, hingga jalan dan area parkir yang perlu dibenahi menjadi catatan Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud saat meninjau Terminal Sungai Kunjang dan Terminal Lempake, Selasa (3/11/2026).

Rudy tak ingin fasilitas yang seharusnya menjadi penopang transportasi murah masyarakat itu terus dibiarkan dalam kondisi memprihatinkan.

Di Terminal Sungai Kunjang, Jalan Untung Surapati, gubernur langsung menyoroti kondisi bangunan dan fasilitas yang dinilai kurang tertata.

Terminal yang diresmikan pada 1989 itu telah beroperasi hampir empat dekade. Namun, kondisi fisiknya belum menunjukkan kualitas pelayanan yang sebanding dengan kebutuhan masyarakat.

“Berapa lama sudah terminal bus kita ini Pak Yus?” tanya Rudy kepada Kepala Dinas Perhubungan Kaltim Yusliando.

“Tahun 1989 diresmikan Pak Gubernur. Jadi terminal ini sudah beroperasi sekitar 35 tahun lebih Pak,” jawab Yusliando.

Terminal tipe B tersebut melayani angkutan antarkota dalam provinsi (AKDP), termasuk rute Samarinda-Balikpapan serta sejumlah daerah di Kutai Kartanegara dan Kutai Barat.
Aktivitasnya masih berjalan. Pada hari normal, keberangkatan bus berkisar 20 hingga 35 unit per hari.

Namun, tingginya aktivitas transportasi tidak diimbangi kondisi fasilitas yang memadai.
Rudy meminta aset milik Pemprov Kaltim itu segera dirapikan. Bangunan yang tidak lagi diperlukan diminta dibongkar agar kawasan terminal lebih tertata.

“Aset bapak ini segera diperbaiki, dirapikan dan bangunan yang tidak perlu segera dibongkar,” perintah orang nomor satu Kaltim itu.

Perhatian Rudy tidak hanya tertuju pada kondisi bangunan luar. Ruang tunggu penumpang juga menjadi salah satu fasilitas yang harus segera dibenahi.

Rudy menginginkan ruang tunggu yang lebih nyaman, tertutup, dilengkapi pendingin udara dan televisi.

“Ruang tunggu ini harus nyaman dan modern Pak. Ya minimal ruangan tertutup ber-AC dan disediakan televisi. Ini kan bagian dari pelayanan publik,” tegasnya.

Menurut Rudy, terminal bukan sekadar tempat bus datang dan pergi. Fasilitas tersebut harus mampu memberikan kenyamanan kepada masyarakat yang menggunakan transportasi umum, terutama penumpang yang menunggu keberangkatan menuju daerah lain.

Kantin dan kios pedagang juga diminta ditata serta diperluas agar aktivitas ekonomi di kawasan terminal lebih tertib.

Sementara untuk infrastruktur, Rudy secara khusus meminta jalan dan area parkir bus segera diperbaiki dan diaspal.

Kepala Dinas PUPR Kaltim Irhamsyah mendapat instruksi langsung untuk menangani kebutuhan tersebut.

“Jalanan di terminal ini perbaiki saja ya Pak Iing. Paling tidak sampai Rp3 miliar,” perintah Rudy lagi.

Sebelum meninjau Sungai Kunjang, Rudy lebih dahulu melihat kondisi Terminal Lempake.

Kondisinya hampir serupa. Fasilitas publik yang berada di bawah pengelolaan Pemprov Kaltim itu dinilai kurang terurus dan membutuhkan penataan ulang.

Gubernur meminta kawasan terminal diperbaiki agar lebih menarik, tertib dan nyaman bagi masyarakat.

Aspal di sekitar Terminal Lempake juga diminta kembali dimuluskan.

Tak hanya infrastruktur, Rudy menginginkan kawasan terminal memiliki lingkungan yang lebih asri dengan penanaman pohon buah-buahan.

Langsat, durian dan kelengkeng menjadi beberapa jenis tanaman yang diusulkan untuk ditanam di sekitar terminal.

Dengan begitu, kawasan terminal tidak hanya berfungsi sebagai tempat naik-turun penumpang, tetapi juga memiliki lingkungan yang lebih nyaman bagi masyarakat.

“Ini aset pemprov, tidak bisa dibiarkan begitu saja. Harus kita benahi agar masyarakat lebih nyaman menggunakan jasa terminal dan transportasi yang murah dan terjangkau,” pesan Rudy.

Terminal Sungai Kunjang memiliki luas sekitar 1,3 hektare dan telah masuk dalam perencanaan revitalisasi.

Namun, pembenahan menyeluruh masih menghadapi kendala kondisi fiskal daerah serta efisiensi anggaran dari pemerintah pusat.

Di tengah keterbatasan tersebut, Rudy meminta perbaikan fasilitas yang mendesak tidak harus menunggu seluruh rencana revitalisasi terlaksana.

Pembenahan kantor, ruang operator, ruang tunggu, kios pedagang, jalan dan parkir menjadi pekerjaan yang harus segera ditangani.

Sebab, terminal merupakan fasilitas publik yang digunakan masyarakat untuk mengakses transportasi dengan biaya terjangkau.

Kondisi terminal yang tidak terurus berpotensi mengurangi kenyamanan pengguna sekaligus membuat aset daerah kehilangan fungsi optimalnya.

Penataan dua terminal ini menjadi pekerjaan rumah Pemprov Kaltim untuk memastikan fasilitas transportasi publik tidak hanya tersedia, tetapi juga layak digunakan.

Di tengah keterbatasan anggaran, Rudy menegaskan aset daerah tidak boleh dibiarkan terbengkalai. Perbaikan harus dimulai dari fasilitas yang paling dibutuhkan masyarakat, sehingga terminal kembali menjadi tempat yang nyaman, tertib dan mendukung mobilitas warga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *