Produktivitas Padi Melonjak 44,8 Persen, Kaltim Kejar Swasembada Beras Akhir 2026
ANGGANA – Target swasembada beras Kalimantan Timur pada akhir 2026 mulai diuji dari lahan sawah. Di Desa Sidomulyo, Kecamatan Anggana, Kutai Kartanegara, produktivitas padi yang sebelumnya hanya 4,8 ton per hektare berhasil didongkrak menjadi 6,95 ton per hektare.Lonjakan hampir 45 persen itu dicapai melalui penerapan bio-invigorasi benih yang dipadukan dengan sistem Low External Input Sustainable Agriculture (LEISA) serta pemanfaatan teknologi pertanian, termasuk drone sprayer.Capaian tersebut menjadi modal Pemprov Kaltim untuk mengejar target yang lebih besar, produktivitas minimal 7 ton per hektare di seluruh wilayah sentra padi.Wakil Gubernur (Wagub) Kaltim Seno Aji mengatakan inovasi di Sidomulyo membuktikan peningkatan produksi tidak harus selalu berbanding lurus dengan penambahan biaya. Teknologi justru diarahkan untuk membuat usaha tani lebih efisien sekaligus meningkatkan hasil panen.“Setelah dua kali dilakukan dan dievaluasi, terlihat ada peningkatan produktivitas, penurunan biaya dan pengendalian hama. Ini membuat petani kita semakin digdaya dan berdaya,” kata Seno saat panen demplot padi di Gapoktan Mandiri, Desa Sidomulyo, Kamis (10/9/2026).Menurut Seno, keberhasilan demplot tersebut tidak boleh berhenti sebagai lahan percontohan. Model yang terbukti meningkatkan hasil harus diperluas ke kawasan pertanian lainnya.“Mari kita lakukan replikasi secara massal. Mari kita bersama-sama memastikan hasil panen di seluruh wilayah Kaltim memiliki produktivitas minimal 7 ton per hektare,” tegasnya.Seno menyebut sekitar 28 ribu hektare sawah aktif telah ditanami hingga Agustus 2026. Pemprov Kaltim kini menggenjot produksi melalui dua jalur sekaligus, yakni intensifikasi lahan yang sudah ada dan ekstensifikasi dengan membuka serta mengoptimalkan lahan pertanian baru.Target akhirnya bukan sekadar meningkatkan angka produksi, tetapi mengurangi ketergantungan Kaltim terhadap pasokan beras dari luar daerah.“Harapannya, hingga akhir 2026 kita bisa mempersembahkan swasembada beras untuk Kaltim,” ujarnya.*Dari 4,8 Ton Jadi 6,95 Ton*Direktur Politeknik Negeri Samarinda Hamka menjelaskan capaian 6,95 ton per hektare di Sidomulyo menjadi perubahan signifikan dibanding musim tanam pertama 2026 yang hanya menghasilkan rata-rata 4,8 ton per hektare.Rendahnya produktivitas sebelumnya dipengaruhi sejumlah persoalan, mulai dari karakteristik tanah ultisol yang kurang subur, vigor benih yang rendah hingga tingginya serangan hama dan penyakit tanaman.Intervensi dilakukan dengan bio-invigorasi benih dan sistem LEISA yang mengoptimalkan sumber daya lokal, memperbaiki kualitas benih, menekan penggunaan input eksternal dan meningkatkan efisiensi budidaya.“Hasilnya, produktivitas padi sawah pada demplot Gapoktan Mandiri meningkat menjadi 6,95 ton per hektare atau naik sekitar 44,83 persen,” jelas Hamka.Penggunaan drone sprayer juga menjadi bagian dari pendekatan tersebut. Teknologi ini memungkinkan aplikasi sarana produksi dilakukan lebih efektif sekaligus mengurangi beban kerja petani.Angka 6,95 ton per hektare bukan sekadar hasil satu demplot. Capaian itu menjadi uji coba bahwa target 7 ton per hektare bukan angka yang mustahil jika inovasi pertanian yang sama bisa diperluas.Karena itu, Seno meminta pemerintah daerah, TNI-Polri, instansi vertikal, dunia usaha dan masyarakat tidak bekerja sendiri-sendiri dalam mengejar kemandirian pangan.“Insyaallah, akhir tahun 2026 kita swasembada beras,” kata Seno.