Subscribe

Menyikapi Status Darurat Air Bersih Kota Samarinda

2 minutes read

Keputusan Wali Kota Samarinda, Andi Harun, menetapkan status tanggap darurat kekeringan dan krisis air bersih selama 14 hari menjadi pengingat bagi seluruh warga. Samarinda kini berada pada titik krusial. Kemarau panjang yang memicu intrusi air laut ke Sungai Mahakam—sumber utama air baku kita—telah mendorong kadar klorida melebihi batas aman 250 PPM. Akibatnya, operasional sejumlah intake PDAM harus dihentikan sementara demi menjaga mutu dan kesehatan konsumsi warga.

Langkah tanggap darurat yang diambil pemerintah daerah sudah sepatutnya kita dukung. Namun, penetapan status ini tidak boleh berhenti sekadar sebagai dokumen administratif atau retorika penanganan bencana. Ini adalah alarm keras bahwa ketahanan air Kota Tepian rentan terhadap perubahan iklim dan cuaca ekstrem.

Dalam situasi ini, terdapat tiga hal mendesak yang harus menjadi perhatian bersama:

Transparansi dan Respons Pendistribusian: Pemkot Samarinda melalui Perumda Tirta Kencana harus memastikan distribusi air bersih darurat melalui armada tangki berjalan merata dan tepat sasaran, terutama bagi pemukiman padat dan wilayah pinggiran yang paling terdampak. Informasi jadwal pengaliran maupun penghentian sementara wajib disampaikan secara cepat dan akurat.
Bijak Memakai Air dan Waspada Karhutla: Di tingkat tapak, masyarakat dituntut ekstra hemat dalam penggunaan air bersih. Selain itu, seiring kekeringan yang melanda, kewaspadaan terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta pemukiman harus ditingkatkan. Hentikan tindakan ceroboh seperti membakar sampah sembarangan yang bisa memperparah keadaan.
Evaluasi Infrastruktur Jangka Panjang: Penetapan status darurat ini harus menjadi momentum evaluasi total. Samarinda tidak bisa terus-menerus bergantung sepenuhnya pada pasokan Sungai Mahakam tanpa adanya alternatif penampungan air baku (embung atau waduk cadangan) yang memadai ketika fenomena intrusi air asin berulang di masa depan.

Krisis air bersih adalah persoalan hidup dan mati suatu kota. Kebijakan tegas Wali Kota Andi Harun memberikan arah, tetapi keberhasilan melewati masa kritis ini ada di tangan kolaborasi semua pihak: ketepatan eksekusi pemerintah dan kesadaran kolektif warga Samarinda. setia wirawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *