Menag: Indonesia Adalah Lukisan Terindah Tuhan, Jangan Sampai Dirusak
KUTAI BARAT – Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak seluruh elemen bangsa menjaga kerukunan sebagai kekuatan utama Indonesia. Di hadapan ratusan santri, tokoh agama, dan masyarakat dalam Dialog Kebangsaan di Pondok Pesantren Assalam Arya Kemuning, Sabtu (4/7/2026), ia menyebut Indonesia sebagai “lukisan terindah” yang diciptakan Tuhan.
Menurut Nasaruddin, keindahan Indonesia justru lahir dari keberagamannya. Perbedaan suku, agama, budaya, dan adat bukanlah ancaman, melainkan warna yang membuat bangsa ini utuh dan indah.
“Indonesia adalah lukisan Tuhan yang paling indah di muka bumi. Jangan ada yang merusak lukisan ini,” tegasnya.
Ia mengibaratkan Indonesia seperti sebuah kanvas putih yang menjadi bernilai karena dipenuhi beragam warna. Tanpa keberagaman, Indonesia tidak akan memiliki karakter yang membedakannya dari bangsa lain.
Nasaruddin juga mengungkapkan kebanggaannya terhadap capaian Indonesia dalam menjaga toleransi. Menurutnya, indeks kerukunan umat beragama pada 2025-2026 mencapai skor 87, menjadi salah satu yang tertinggi dan menunjukkan bahwa Indonesia mampu membuktikan keberagaman dapat berjalan berdampingan dengan kedamaian.
“Tidak ada negara yang lebih plural daripada Indonesia. Ribuan pulau, ratusan budaya, berbagai agama, tetapi tetap mampu hidup rukun,” ujarnya.
Ia kemudian mengingatkan agar pesantren dan masjid tidak hanya menjadi pusat pendidikan maupun tempat ibadah, tetapi juga menjadi ruang yang terbuka bagi nilai-nilai kemanusiaan.
“Masjid harus menjadi rumah besar bagi kemanusiaan. Semua anak Indonesia adalah saudara,” pesannya.
Dalam kesempatan yang sama, Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud menyebut Kalimantan Timur sebagai miniatur Indonesia yang selama ini berhasil merawat kehidupan masyarakat yang harmonis di tengah keberagaman.
Menurutnya, Kabupaten Kutai Barat menjadi contoh nyata bagaimana berbagai suku, agama, dan budaya mampu hidup berdampingan dengan damai, saling menghormati, dan bergotong royong.
“Salah satu wajah terbaik keberagaman Indonesia ada di Kutai Barat. Masyarakatnya hidup rukun, adem, dan saling menghargai,” kata Rudy.
Komitmen menjaga toleransi, lanjutnya, juga diwujudkan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur melalui program penghargaan bagi para penjaga rumah ibadah dari berbagai agama. Bentuknya berupa perjalanan religi ke sejumlah pusat keagamaan dunia, mulai dari Mekkah dan Madinah bagi umat Islam, Yerusalem bagi umat Kristen, Vatikan bagi umat Katolik, India bagi umat Hindu, hingga Tibet bagi penganut Konghucu.
Dialog Kebangsaan tersebut digelar dalam rangka peringatan Hari Lahir ke-34 Pondok Pesantren Assalam Arya Kemuning. Kegiatan dihadiri Anggota DPR RI Sarifah Suraidah, Sekretaris Daerah Kaltim Sri Wahyuni, Bupati Kutai Barat Frederick Edwin, Kepala Kanwil Kementerian Agama Kaltim Abdul Khaliq, pimpinan Pondok Pesantren Assalam Arya Kemuning Arif Heri Setiawan, jajaran perangkat daerah, tokoh lintas agama, serta ratusan santri dan masyarakat.