Waspada ‘Strategic Invisibility’! Peneliti Uhamka Sebut Narasi Global Indonesia Terancam Hilang
JAKARTA – Posisi Indonesia di panggung internasional kini tengah berada di lampu kuning. Peneliti Pusat Studi Politik dan Sosial Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA (Uhamka), Emaridial Ulza, memperingatkan adanya ancaman strategic invisibility trap atau jebakan “ketidakterlihatan strategis” di tengah memanasnya konflik Iran, Israel, dan Amerika Serikat.
Laporan strategis Global Trust Intelligence (GTI) mengungkapkan bahwa meski kondisi Indonesia tidak dipersepsikan buruk, Indonesia justru berisiko dianggap “tidak ada” dalam percakapan narasi global yang krusial.
“Negara yang tidak muncul dalam narasi global akan cenderung tidak diperhitungkan, baik dalam konteks investasi, diplomasi, maupun pengambilan keputusan strategis,” tegas Emaridial di Jakarta, Senin (6/4/2026).
Kalah ‘Panggung’ dari Iran?
Emaridial menyoroti fenomena unik di mana Iran tetap menjadi aktor sentral dalam percakapan dunia meski tengah dilanda konflik besar. Sebaliknya, Indonesia dengan populasi 280 juta jiwa dan ekonomi yang stabil justru sering absen dari radar perhatian publik internasional.
Secara neurosains dan marketing internasional, pasar global tidak hanya bergerak berdasarkan data angka, tapi sangat dipengaruhi oleh narasi yang tertanam kuat di ingatan. Jika Indonesia tidak aktif membangun narasi sendiri, dampaknya bisa fatal ke sektor ekonomi:
- Investasi Asing Tertunda: Investor cenderung ragu pada negara yang “sunyi” dari narasi global.
- Biaya Pinjaman Naik: Kepercayaan pasar yang rendah memicu beban finansial lebih berat.
- Capital Outflow: Risiko keluarnya modal dari dalam negeri.
Ancaman ‘Keynesian Triple Squeeze’
Kondisi ini diperparah dengan tekanan ekonomi yang disebut sebagai Keynesian Triple Squeeze. Ini adalah situasi sulit di mana tiga pilar ekonomi—lapangan kerja, suku bunga, dan likuiditas—tertekan secara bersamaan tanpa adanya sektor penyangga yang kuat.
Punya ‘Senjata’ Tapi Kurang Branding
Padahal, Emaridial mencatat Indonesia punya modal kuat untuk pamer di level dunia, di antaranya:
- Pajak Ekonomi Digital: Masuk dalam tiga besar terbaik dunia.
- Makan Bergizi Gratis (MBG): Salah satu investasi human capital terbesar di kawasan.
Sayangnya, keunggulan ini dinilai belum dikomunikasikan secara efektif ke audiens global.
“Narasi bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan faktor yang menentukan arah ekonomi sebuah negara. Ketika sebuah negara tidak mampu mendefinisikan dirinya sendiri, maka dunia tidak akan melihatnya sebagai aktor yang penting,” pungkasnya. (ant/one)