Kaltim Genjot Kakao dan Kelapa, Siapkan Mesin Ekonomi Baru di Luar Tambang
Samarinda – Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur mulai mengarahkan strategi ekonomi jangka panjang dengan mendorong pengembangan komoditas perkebunan, khususnya kakao dan kelapa. Langkah ini menjadi pelengkap program besar pencetakan sawah baru yang tengah berjalan.
Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud menegaskan, potensi kakao daerah seperti Kutai Timur, Berau, dan Mahakam Ulu sudah terbukti memiliki kualitas unggulan di tingkat nasional. Karena itu, pengembangan kakao dinilai realistis untuk segera dipercepat.
Menurutnya, perluasan kakao dapat memanfaatkan skema perhutanan sosial, sehingga masyarakat sekitar hutan ikut terlibat langsung sebagai pelaku utama.
Dukungan pemerintah pusat juga disebut siap mengalir, terutama dalam penyediaan bibit dan kebutuhan dasar lainnya.
Dorongan ini diperkuat setelah pertemuannya dengan Menteri Pertanian Amran Sulaiman, yang membuka peluang sinergi antara pusat dan daerah dalam pengembangan komoditas perkebunan unggulan.
Gubernur Rudy meminta Dinas Perkebunan segera bergerak cepat menjalin koordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota untuk memetakan wilayah prioritas. Targetnya tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga menarik investor masuk ke sektor hilir.
“Kalau produksi besar, industri pengolahan pasti ikut tumbuh di Kaltim,” ujarnya.
Selain kakao, komoditas kelapa dalam juga masuk dalam rencana pengembangan serius. Wilayah pesisir dari Berau hingga Paser dinilai sangat cocok untuk tanaman ini. Meski masa panennya relatif panjang, yakni 6–8 tahun, pemerintah mendorong penggunaan varietas kelapa hibrida yang bisa dipanen lebih cepat, sekitar 3–5 tahun.
Rudy bahkan mencontohkan keberhasilan ekspor kelapa di Maluku Utara yang nilainya mencapai triliunan rupiah sebagai gambaran potensi ekonomi yang bisa diraih Kaltim.
Ia menekankan pentingnya percepatan koordinasi lintas daerah agar penanaman kelapa bisa segera dimulai, khususnya di kawasan pesisir yang memiliki karakter tanah dan kandungan garam yang sesuai.
Upaya ini menjadi bagian dari strategi besar transformasi ekonomi Kaltim, yang selama ini masih bertumpu pada sektor minyak, gas, dan batu bara.
Dengan penguatan sektor perkebunan, pemerintah berharap tercipta sumber pertumbuhan baru yang lebih berkelanjutan sekaligus membuka lapangan kerja luas, dari hulu hingga hilir distribusi.