50 Titik Longsor Ancam Jalur Nasional Sangatta–Sangkulirang
SANGATTA — Jalur nasional yang menghubungkan Sangatta hingga Sangkulirang di Kabupaten Kutai Timur, ternyata menyimpan persoalan serius. Di balik statusnya sebagai urat nadi distribusi logistik dan akses utama masyarakat pesisir Kutai Timur, sedikitnya 50 titik longsor, potensi longsor, dan penurunan badan jalan ditemukan di sepanjang ruas tersebut.
Temuan itu didapat langsung Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud saat meninjau wilayah utara pada 24–25 Februari 2026. Tiga ruas yang dilalui yakni Sangatta–Simpang Perdau (32 km), Simpang Perdau–Muara Lembak (13,10 km), dan Muara Lembak–Sangkulirang/Pelabuhan Ronggang (52,14 km).
Rinciannya tidak main-main. Ada 17 titik bermasalah di ruas Sangatta–Simpang Perdau, 11 titik di Simpang Perdau–Muara Lembak, serta 22 titik di ruas Muara Lembak–Sangkulirang menuju Pelabuhan Ronggang. Beberapa di antaranya bahkan menunjukkan badan jalan yang mulai patah dan tergerus.
Di atas radio mobile, instruksi langsung keluar. Kondisi ini, kata gubernur, tak bisa dibiarkan berlarut. Laporan harus segera masuk ke Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) agar penanganan cepat dilakukan.
“Jalur ambruk seperti ini tidak boleh dibiarkan. Kalau sampai putus, distribusi logistik bisa lumpuh,” tegasnya saat melintas di titik Sta 19+160 ruas Muara Lembak–Sangkulirang.
Langkah berikutnya bukan sekadar administrasi. Gubernur memastikan akan menyampaikan langsung kondisi tersebut kepada Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo dalam waktu dekat.
Sorotan pada jalan nasional ini menjadi lanjutan dari perhatian serius terhadap infrastruktur selama setahun terakhir. Untuk jalan provinsi yang menjadi kewenangan daerah, perbaikan sudah terlihat. Tingkat kemantapan jalan provinsi meningkat dari 82,21 persen pada 2024 menjadi 85,83 persen di 2025. Rekonstruksi juga melonjak, dari 68 km menjadi 120 km.
Namun jalur Sangatta–Sangkulirang bukan sekadar angka statistik. Ia adalah penghubung komoditas unggulan, akses masyarakat pesisir, hingga jalur vital menuju Pelabuhan Ronggang. Jika terganggu, rantai pasok pangan dan energi ikut tersendat.
Jalur ini merupakan akses pesisir menuju Kabupaten Berau. Pemprov Kaltim bahkan lebih mempermudah akses itu dengan membangun Jembatan Nibung di Kaubun menuju Desa Pelawan di Kecamatan Sangkulirang.
Di wilayah yang sedang bertumbuh cepat seperti Kalimantan Timur, konektivitas bukan hanya soal aspal dan beton. Ia menentukan harga bahan pokok, arus investasi, hingga rasa aman pengguna jalan.
Kini bola ada di tangan pemerintah pusat. Warga dan pelaku usaha berharap laporan itu tak berhenti di meja birokrasi, melainkan berujung pada alat berat yang segera turun ke lapangan membuat jalanan arteri itu mulus dan nyaman dilalui.